UN
telah berakhir ye. Perjuangan selama 3 tahun dengan sistem pendidikan
diindonesia yang berubah-ubah tak sia-sia. Sebuah pengalaman 3 tahun di SMA
yang mungkin akan dikenang seumur hidup.
Kata orang masa SMA adalah masa paling manis dalam hidup. Masa iya sih?
Kupikir begitu juga. Tapi masa SMA ku
agak tidak mengasyikkan. Tak satu pun cewe mau sama aku. Entah lah emang aku
jelek atau gimana. Dari sekian cewe aku selalu ditolak. Ku tahu lah emang aku
bukan lelaki yang sempurna dan digilai banyak cewe jauh dari kata itu malah.
Kenapa begitu? Karena aku telah buktikan sendiri, aku ikut eskul basket yang
katanya bisa dengan mudah mendapatkan cewe dan emang bener para kakak kelas
dengan mudah mendapatkannya. Terus jurus itu tak manjur sama sekali denganku. Tenggelam
namaku.
Semudah
itukah aku menyerah? Tidak lah aku tidak menyerah disitu aku terus mencari
cara. Di kelas 11 nya aku ikut eskul sepakbola mungkin dari sini bisa, karena
waktu smp eskul ini dengan mudah sangat mendapatkan cewe. Beneran aku ikut, latian
berangkat terus hingga menjadi pemain inti. Setiap usaha yang katanya
membuahkan hasil bagiku itu tidak manjur sama sekali. Bagiku itu adalah kata
yang digunakan oleh orang kalah dengan keadaan. Emang kenyataan itu bahwa
setiap usaha tak membuahkan hasil. Setelah berakhirnya turnamen sepakbola yang
tim ku ikuti setelah pertandingan berakhir dan pas itu pula banyak cewe-cewe
yang melakukan foto dengan para pemain. Saat itu pula aku tau tak pernah
seorang pun kenal aku. Diajak foto pun enggak. Ku hanya lelaki biasa sederhana
dan tak punya bakat.
Semudah
itukah aku menyerah? Cih Cuma masalah sepele gitu kau nyerah. Kata orang pula
kita pasti bisa di percobaan berikutnya. Ya kadang itu yang memotivasiku untuk
bangkit lagi dan menggempur kenyataan. Sebenarnya kata-kata tersebut hanya
bual-bualan diriku sendiri. Menyerah pada keadaan yang memang benar benar
membuat ku menerima itu. Lelaki sederhana tak punya bakat. Kata seorang teman
sudah lah gak usah jadi tenar buat apa jadi sederhana juga enak. Ya aku tau lah
sederhana tak menginginkan apapun dan berambisi apapun sesederhana itukah
hidup. Antara menjadi tenar dan sederhana mana yang kau pilih jika memang
keduanya memberikan jalan berduri yang sama. Selama ini diriku selalu berontak
tentang itu tentang keduanya jalan apa yang akan ku pilih. Menghunus kan pisau
dileher sendiri dan harus memilih satu. Benarkah itu? Jadi bagimu masa SMA yang
menyenangkan itu harus punya cewe? Apakah selain itu tidak menyenangkan?
Entahlah karena garis besar tulisan ini bukan itu.